ketika elang mencintai dara part 6
Rabu, 20 Maret 2013
0
komentar
Pembinaan olimpiade matematika ternyata nggak seseram
yang aku bayangkan. Beberapa kali Pak Johan menyemangatiku untuk menjawab soal
lebih cepat dan benar.
Masih tersisa satu soal lagi.
“Lo nggak ngerti, Ra?” Tanya Elang.
“Nggak. Kan gue belum dapetin materi’y di kelas sepuluh.”
Jawabku.
Elang lalu menyodorkan buku catatan’y. Aku lebih cepat
mengerti apa yang ditulis Elang. Tapi dari cara dia menjawab soal, aku jadi
teringat Cakra.
Mirip Cakra.
Aku merasa mood-ku mulai berubah.
“Ngerti nggak?” Tanya Elang lagi.
“Ng… sedikit.” Sahutku.
Pak Johan kemudian meminta Elang untuk menuliskan
jawaban’y di papan tulis.
Setelah pertanyaan terakhir dijawab Elang, pembinaan
selesai.
Aku cepat2 beranjak keluar.
“Ra, kok buru2?” Tanya Elang.
“Ntar gue ditinggal sama Adzy.” Jawabku.
“Nggak mungkinlah Adzy ninggalin elo.” Kata Elang seraya
menyusulku.
Kami kemudian berjalan beriringan lagi.
Di saat aku dan Elang berjalan bersama menuju parkiran,
tiba2 saja Safira muncul di hadapan kami.
“Hai, Lang!” sapa’y seraya tersenyum ke arah Elang.
“Hai!” sapa’y lagi kepadaku.
“Mau ngapain lo?” Tanya Elang agak ketus.
Aku nggak ngerti kenapa Elang ketus.
“Ya ampun… Lo nggak berubah ya dari dulu? Gue udah susulin
ke sini ternyata lo masih aja jutek ke gue.” Kata Safira.
“Jadi kalian udah saling kenal dari dulu?” tanyaku
spontan.
Safira tersenyum. “Iya, dulu gue sama Elang satu sekolah
di Melbourne. Gue sengaja pindah sekolah ke sini karena mau nyusul Elang.” Kata’y.
“Oh ya, nama lo siapa? Ikut pembinaan olimpiade juga?”
“Gue…”
“Buruan yuk, Ra! Kita pulang aja.” Elang memotong
ucapanku sambil menarik taganku untuk menjauh dari Safira.
“Tapi, Lang…”
“Udahlah, ntar lo ditinggal sama Adzy.” Potong Elang
lagi.
Kami kemudian meninggalkan Safira.”Lang, lo kenapa sih?
Lo ada apa sama Safira?” tanyaku. Jangan2 mereka dulu punya hubungan khusus.
“Gue nggak suka aja sama dia.” Jawab Elang enteng.
“Nggak suka? Kenapa nggak suka? Safira keliatan’y baik
kok, bukti’y tadi dia nyapa kita.”
“Lang! Gue nanya, lo denger nggak sih?” tanyaku kesal.
Elang lalu menghentikan langkah’y. Dia menatapku serius.
“Sekarang gue nanya, lo suka nggak kalo gue suka sama
Safira?” tanya’y.
Hah? Kenapa hari ini Elang meolontarkan pertanyaan2 aneh
kepadaku? Aku bingung harus menjawab apa. Untung saja HP-ku berbunyi. Ada SMS
dari Adzy.
Cepat2 aku baca SMS’y.
Ra, gw plg duluan sm Lala. Gw udh selesai dr td. Sori bgt ya. Lo bs plg sm
elang, kan?
“Apa?!” aku memekik.
“Kenapa, Ra?” Tanya Elang.
“Gue ditinggal sama Adzy.” Sahutku dengan tampang jutek.
“Dia pulang duluan sama Lala.”
“Ya udah, gue anter lo pulang.” Kata Elang.
Ya, gue emang mau pulang sama lo, kataku dalam hati.
Aku mengikuti Elang menuju mobil’y.
“Lang, gue boleh nanya lagi nggak?” tanyaku pada Elang di
mobil.
“Nanya apaan? Safira lagi?” Elang balik nanya. “Emang
kenapa sih? Penting, ya?”
“Abis’y lo keliatan nggak suka gitu. Kenapa sih? Lo dulu
punya hubungan khusus, ya, sama Safira?”
Elang sempat melirikku beberapa detik.
“Safira mantan gue.” Jawab’y pendek.
“Mantan lo?” aku memekik kaget.
“Nggak usah heboh gitu, kali. Biasa aja.” Kata Elang.
“Safira itu mantan gue waktu gue masih sekolah di Australia. Udah puas?”
“Sori… gue kelepasan.” Kataku cepat. “Terus… kenapa bisa
putus?” tanyaku lagi.
“Gue nggak betah.” Sahut Elang. “Safira hobi belanja,
hampir tiap hari gue nemenin dia shopping. Nggak cuma itu, gue juga harus
nemenin dia ke salon, crambath-lah, meni-pedi-lah, facial-lah, dan apalah
nama’y itu. Tiada hari tanpa perawatan. Dan yang paling gue nggak suka, dia
bisa2’y selingkuh sama ntemen gue sendiri.”
“Jadi Safira selingkuh?” aku agak kaget. Gila, cowok
secakep dan sekeren Elang diselingkuhin.
“Kenapa? Kaget? Nggak usah kaget, dia emang gitu. Nggak
pernah serius.”
“Nggak pernah serius? Tapi dia bilang ke sini buat nyusul
elo. Apa itu nggak serius?”
“Halah… paling dia udah dicampakin sama selingkuhan’y.
Maka’y dia ikut2an ke sini. Atau duit’y udah abis buat biaya hidup di
Melbourne.” Ujar Elang seraya tertawa ringan.
“Lo sendiri kenapa pindah?”
“Bokap gue udah selesai tugas di Melbourne. Gue nggak mau
menghindar kok.” Sahut Elang. “Kenapa sih lo nanya2 Safira melulu?”
“Nggak apa2. Gue cuma penasaran.” Sahutku.
Aku sudah sampai di rumah. Begitu turun dari mobil Elang,
aku malah nggak melihat mobil Adzy di garasi.
“Kenapa, Ra? Kok nggak langsung masuk rumah?” Tanya Elang
dari dalam mobil.
“Mobil Adzy nggak ada. Pasti dia jalan2 sama Lala. Tuh
anak curang banget sih?” gerutuku.
Elang tertawa mendengar gerutuanku.
“Udahlah, Adzy kan perlu refreshing.” Kata’y. “Gue cabut
dulu ya, gue ngantuk banget.”
Elang tancap gas. Aku hanya bisa melihat mobil’y melaju
dengan kencang.
Kemarin begitu Adzy sampai di rumah, aku langsung
menyerang’y dengan beberapa pukulan. Tadi pagi di mobil ketika aku berangkat
sekolah, Adzy dan Lala kelihatan senang. Ternyata nggak cuma Lala yang sok jadi
makcomblang, tapi juga Adzy!
Hari ini aku nggak berminat ke luar kelas.
“Ra, ke kantin yuk, temenin gue makan. Gue laper.” Ajak
Lala.
“Males, La. Lo sama Adzy aja.”
“Ih, lo kenapa sih? Gue males ke kelas’y Adzy. Sama lo
aja deh. Lo jangan menutup diri dari dunia luar dong.”
“Yang menutup diri itu siapa? Gue kan udah bilang gue
males.”
“Ah, lo nggak asyik, Ra! Jangan bilang lo males keluar
gara2 Cakra, ya!” Lala menatapku dengan serius.
Aku hanya diam.
“Ra! Ayo ke kantin!” bujuk Lala.
Lala menarikku ke luar kelas dan menyeretku ke kantin.
Lala baru saja memesan semangkuk mi ayam bakso spesial
dan es jeruk segar ketika tiba2 aku kebelet pipis.
“La, gue kebelet. Gue ke toilet dulu, ya?” aku langsung
berlari menuju toilet.
AKu merasa lega. Ketika aku mencuci tanganku di wastafel,
aku melihat Safira berdiri menatap cermin.
“Hai, lo masih inget gue, kan?” tanya’y.
“Ya, gue inget.” Sahutku.
Safir memandangiku dari atas sampai bawah. Dia hanya
memperhatikan aku sambil memelintir rambut’y.
“Kayak’y lagi lo deket sama Elang, ya? Sedeket apa sih lo
sama Elang?” tanya’y.
“Bukan urusan lo.” Kataku berusaha cuek.
“Bukan urusan gue?” Safira lalu tersenyum sinis. “Lo tau
siapa gue?”
“Tau. Lo mantan’y Elang, kan?”
“Kayak’y Elang udah cerita banyak ke elo ya. Gue cuma mau
ngasih tau lo, gue nggak mau tujuan gue jauh2 datang ke sini jadi gagal.
Sebaik’y lo minggir dan jangan deketin Elang lagi. Ngerti lo?”
“Apa hak lo ngelarang gue?” tanyaku agak sewot.
“Oh, jadi lo berani sama gue? Oke, gue bakal bikin lo
menyesal!”
Safira berbalik seraya mengibaskan rambut’y yang ikal
bergelombang.
Setelah aku keluar dari toilet, aku ketemu Sasha.
“Lo Dara, kan?” Tanya Sasha. “Bener2 nggak pantes sama
Elang.” Kata’y dengan nada kejam. “Bener2 nggak pantes.”
“Lo sendiri pantes?” bentakku.
“Oh, jelas… Lo nggak usah sering2 deket Elang deh. Satu
sekolah juga udah tau, kalo lo berdiri di sebelah Elang, bakalan jomplang
banget. Mending juga Elang ada di deket gue.”
“Hah? Elang? Di deket lo? Bisa2 Elang muntah!” kataku
seraya pergi menjauh dari Sasha.
“Lala! Gue mau cerita!” kataku dengan tampang jutek.
“Cerita apa?” Tanya Lala dengan mulut penuh makanan.
“Abisin dulu makanan lo! Cepetan!” kataku jutek.
Lala kemudian cepet2 menghabiskan makanan’y.
“Cerita apaan?” Tanya Lala.
“Tadi Safira sama Sasha sok2an ngancem gue.” Kataku.
“Hah? Ngancem lo?” Lala memekik kaget.
Dengan kesel aku menceritakan apa yang Safira dan Sasha
lakukan padaku di toilet.
“Lo harus lawan terus!” kata Lala bersemangat.
“Lama2 gue bisa dimusuhin banyak orang, La!” kataku
kesal. “Mereka nggak akan tinggal diam. Kayak’y gue tadi nyari masalah deh.
Seharus’y gue ngalah aja kan, ya?”
“Eh, nggak boleh ngalah! Justru lo harus tunjukin kalo lo
itu nggak bisa diremehin.”
“Kalo mereka menghasut fans2 Elang biar benci sama gue
gimana?”
“Yang penting Elang nggak benci lo, kan? Kalo Elang nggak
benci sama lo, ya aman2 aja.” Kata Elang enteng. “Jadi tenang aja, Ra. Lo masih
punya gue. Temen lo.”
Benar juga.
“Gimana, Ra? Lo udah ngerti, kan?” Tanya Lala.
“Ya, gue ngerti.” Sahutku.
“Baguslah kalo lo ngerti. Ntar lo pulang bareng Elang
lagi ya, Adzy mau nungguin gue latihan basket, kata’y.”
“Apa? Eh, kok jadi lo yang ngatur gue sih? Nggak mau ah!
Gue mau pulang sama Adzy.”
“Ya udah. Berarti lo nungguin gue latihan basket juga.”
Ribet banget sih hari ini?
***
Nungguin Lala latihan basket benar2 membosankan. Adzy
betah banget nungguin Lala sambil main game di laptop’y. Sementara aku hanya
bisa memandangi beberapa cewek yang lagi oper-operan bola.
“Zy, gue ke toilet bentar, ya? Gue kebelet.” Kataku.
Sebenar’y sih aku nggak mau ke toilet. Aku cuma pengin keliling2 biar nggak
bosan.
“Ya.” Kata Adzy.
“Kalo Lala udah selesai, lo SMS atau telepon gue, ya?
Jangan tinggalin gue lagi.” Kataku.
“Emang’y lo bakalan lama di toilet?” Tanya Adzy.
“Banget.” Jawabku cuek seraya beranjak pergi.
Sambil bernyanyi kecil aku menyusuri koridor sekolah yang
agak sepi.
Dari kejauhan aku melihat anak2 jurnalistik lagi nempelin
beriya terbaru di mading sekolah. Aku mempercepat langkahku.
Aku membaca satu demi satu judul artikel yang ditempel di
mading.
DUKUNG TIM BASKET SEKOLAH DI TURNAMEN BASKET ANTARA SMA.
PEMBINAAN OLIMPIADE SAINS, PERSIAPAN UNTUK GO
INTERNATIONAL.
Aku senang banget, namaku tercantum di situ sebagai
peserta olimpiade matematika.
Setelah membaca artikel itu, aku beralih ke artikel lain.
SAFIRA: TRENDSETTER BARU DARI AUSTRALIA
Buset… artikel apaan nih?
Tanpa aku sadari, dahiku sudah berkerut-kerut gara2
membaca judul artikel yang dibuat itu. Artikel itu dilengkapi dengan foto
Safira.
“Kenapa, Ra? Kok muka lo bĂȘte gitu?”
Aku kaget ada orang yang tiba2 bertanya padaku.
Aku melihat Cakra berdiri di sebelahku.
“Bukan urusan lo.” Sahutku agak ketus.
Cakra lalu membaca artikel yang tertempel di madding satu
per satu.
“Jadi Safira trendsetter baru, ya?” gumam’y.
“Jangan baca yang itu!” kataku spontan.
“Oh… jadi gara2 artikel ini?” Cakra lalu tersenyum tipis.
“Kenapa, Ra? Lo nggak suka sama Safira?”
“Gue kan udah bilang, bukan urusan lo!” kataku jutek.
Aku berusaha menjauh dari Cakra, tapi Cakra malah
mengikutiku.
“Ra, gue mau ngomong sama lo.” Kata Cakra.
“Ngomong apaan sih? Lo sadar nggak sih kalo gue itu sebel
banget sama lo?” kataku kesal.
“Iya, gue tau. Maka’y gue mau jelasin ke elo kalo gue…”
“Lo mau bilang kalo lo suka sama gue lagi?” potongku. Aku
menghentikan langkahku dan melotot ke arah Cakra.
“Weits… jangan galak2 gitu dong, Ra. Gue nggak mau bilang
itu kok. Gue cuma mau bilang kalo gue pengin temenan lagi sama lo, itu aja. Gue
pengin memperbaiki hubungan gue sama lo, sama Adzy. Gue udah pikirin semua’y.
Capek juga kalo terus2an sirik dan hubungan jadi nggak baik.” Ujar Cakra dengan
tampang serius.
“Oh gitu… Apa lo bisa dipercaya?” tanyaku sinis.
“Ra, gue serius. Lo mesti percaya sama gue.”
“Gimana cara’y gue bisa percaya sama lo?”
Cakra terdiam. Dia hanya memandangiku tanpa mengucapkan
satu patah kata pun.
“Diem, kan? Lo nggak bisa jawab, kan?” aku kesal.
“Ra…” ujar Cakra.
“Apa?” tanyaku.
“Elang…”
“Elang?”
Kenapa dia jadi nyebut2 Elang?
“Ng… nggaak apa2. Kita ke sana yuk.” Cakra menunjuk ke
aula. “Di situ anak2 musik lagi latihan.”
“Tunggu. Lo tadi bilang apa? Elang?” tanyaku dengan
kening berkerut.
“Nggak. Gue nggak bilang Elang. Gue cuma bilang…”
“Ckara, lo tadi bilang Elang! Mana Elang?” tanyaku kesal.
Seperti’y Cakra tadi tidak memandangiku. Tapi dia melihat
sesuatu di belakangku.
Spontan aku menoleh ke belakang. Aku melihat dari balik
jendela kelas XII.
Apa yang aku lihat di sana benar2 membuat hatiku
mencelos. Elang lagi pelukan sama Safira!
Cakra cepat2 membalikkan tubuhku dan berusaha mengajakku
pergi. Tapi terlambat. Safira berada di pelukan Elang. Safira begitu manja
berada di pelukan orang yang aku sayang. Aku merasa kali ini aku sudah PATAH
HATI.
“Ra, ayo pergi!” kata Cakra.
Dia kemudian memaksaku pergi. Dia mengajakku duduk di
bangku semen di halaman sekolah. Tanpa sadar air mataku mengalir.
“Ra, lo suka sama Elang, ya?” tanya’y.
Aku nggak menjawab pertanyaan’y.
“Itu juga alasan lo nggak suka sama Safira?” Tanya Cakra
lagi. “Udahlah, Ra. Apa yang lo liat belum tentu bener.” Cakra berusaha
menghibur.
Cakra menghela napas.
“Ra, jangan nangis dong. Gue yakin Elang pasti nggak ada
hubungan apa2 sama Safira.” Kata’y lagi.
“Lo nggak usah sok menghibur gue deh.” Kataku sambil
menangis.
“Oke. Nggak masalah lo masih kesel sama gue. Tapi gue
nggak mau ngeliat lo nangis. Apa perlu gue cari Elang sekarang, terus gue
hajar, gue abisin karena dia udah ngecewain lo?”
“Udah gue bilang, lo nggak usah menghibur gue! Lo nggak
usah cari Elang! Elang emang nggak suka sama gue! Dia suka’y sama Safira!“
kataku penuh emosi.
“Lo salah, Ra. Elang suka sama lo.” Kata Cakra kemudian
dengan suara pelan.
Spontan aku menatap Cakra dengan serius.
“Dari mana lo tau Elang suka sama gue? Lo jangan sok
tau.” Kataku.
“Lo nggak sadar, Ra? Lo nggak sadar kalo Elang selama ini
selalu muncul di saat lo butuh dia? Lo inget nggak, waktu gue berantem sama
Elang gara2 Elang belain lo? Lo inget nggak, waktu Elang maksa ngajakin lo
makan di kantin, waktu lo pengin ketemu sama gue? Lo inget nggak, waktu
kejadian di konser musik? Coba lo inget2, apa yang udah Elang lakuin buat lo!”
Aku nggak nyangka Cakra sepeka itu.
“Gue selalu bersikap fair kok. Kalo lo emang suka sama
Elang, gue nggak masalah. Tapi kali ini gue nggak ngerti. Elang udah bikin lo
nangis. Seharus’y dia nggak ngelakuin hal bodoh kayak tadi!” kata Cakra
berapi-rapi. “Lo tenang aja, Ra.”
Cakra lalu berdiri.
“Lo mau ke mana?” tanyaku lebih kaget lagi.
“Gue mau cari Elang!” jawab Cakra.
Cakra lalu berjalan cepat ke ruang kelas tempat Elang
pelukan sama Safira tadi.
“Cakra!” aku berteriak. Dengan cepat aku menarik lengan
cowok itu. “Cakra! Lo mau ngapain nyari Elang?” tanyaku kesal.
“Gue mau ngasih dia pelajaran!” sahut Cakra galak.
“Nggak perlu! Elang berhak memilih siapa pun yang dia
suka! Dia bukan buat gue, dia suka’y sama Safira!” kataku. Aku takut Elang tahu
aku suka sama dia.
Cakra mengibaskan lengan’y dan terus berjalan cepat
mencari Elang.
“Cakra!” teriakku lagi.
Cakra malah makin mempercepat langkah’y. Sampai akhir’y
dia menemukan Elang. Aku makin kaget begitu melihat Elang ternyata masih
bersama Safira. Tapi kali ini mereka nggak sedang berpelukan.
“Brengsek lo!” kata Cakra penuh emosi.
“Weit… Tunggu, man! Ada apa nih?” kata Elang berusaha santai.
“Ada apa, Ra?” tanya’y kemudian padaku.
“Lo nggak usah berlagak bego deh!” bentak Cakra. “Lo udah
bikin Dara nangis, dan gue nggak bisa ngebiarin lo tenang2 aja sama cewek itu!”
kata Cakra sambil menunjuk Safira.
Wjahku mendadak memerah begitu Cakra ngomong begitu.
“Kayak’y lo salah paham. Kita bisa omongin ini baik2,
kan? Gue nggak ngerti sama apa yang lo bilang tadi.” Kata Elang kemudian.
“Gue udah terlanjur emosi.” Kata Cakra. Dia kemudian maju
dan mendekat ke arah Elang dan menarik kerah baju Elang. “Lo jangan seenak’y
mainin perasaan cewek!”
Elang kemudian mendorong Cakra dengan emosi yang sudah
mulai melonjak.
“Maksud lo apa? Lo jangan nuduh gue sembarangan!” kata’y.
Mereka saling dorong sambil mengumpat dan mengatai-ngatai
satu sama lain.
“Cakra! Udahan! Nggak usah pake berantem segala!” kataku
pada Cakra.
“Cakra! Elang! Berhenti!” teriakku.
Cakra dan Elang sudah mulai tonjok2an dan aku semakin
kesal karena Safira nggak ada usaha untuk melerai.
“Safira, lo suruh mereka berhenti dong!” kataku kesal.
“Gue harus ngapain lagi?” Tanya Safira dengan tampang
masa bodoh’y yang begitu menyebalkan.
“Heh! Kalian ngeributin apa sih? Oke, kalo ini memang
kemauan kalian, silakan berantem sampe puas! Gue nggak peduli!” kataku setengah
berteriak. “Gue males ngeliatin kalian kayak gini!”
Cakra dan Elang tiba2 menghentikan pertengkaran. Mereka
berdua sama2 termangu memandangku. Beberapa detik kemudian Adzy muncul dengan
ekspresi keheranan.
“Ada apa nih?” tanya’y.
Aku sedang menahan tangisku yang sebentar lagi mau pecah
karena emosi.
“Gara2 dia!” tunjuk cakra. “Asal lo tau, Zy. Dia udah
bikin Dara sakit hati!”
“Heh? Maksud lo apa? Bukan’y lo yang udah bikin Dara
sakit hati?” balas Elang.
“Diam!” bentakku. Spontan Adzy memelukku.
“Kita cari tempat yang lebih tenang, Ra.” Kata Adzy. Dia
kemudian mengajakku pergi.
Adzy mengajakku kembali ke lapangan basket.
“Dara, lo nangis?” Tanya Lala kaget.
Aku hanya diam.
“Ada apa, Zy?” Tanya Lala.
“Gue juga nggak negrti. Biarin Dara menenangkan diri
dulu.” Sahut Adzy.
“Ntar aja deh gue cerita di mobil.” Kataku.
“Gue nggak ngerti semua’y.” kataku pada Adzy dan Lala.
Adzy hanya diam sambil menyetir mobil.
“Jadi Cakra membalas rasa sakit hati lo ke Elang?” gumam
Lala.
“Jadi lo sebenar’y suka sama Elang?” Tanya Adzy tiba2.
Aku lupa. Adzy nggak pernah tahu bahwa aku suka sama
Elang.
“Dan Cakra ngaku’y suka sama lo?” Tanya Adzy lagi.
Ooh… Adzy juga belum tahu bahwa Cakra mengaku suka sama
aku.
“Ya… gitu deh.” Kataku pelan.
Adzy kemudian diam lagi.
“Ra, lo harus denger penjelasan Elang.” Kata Lala.
“Apa lagi yang harus dijelasin, La?” tanyaku kesal. “Gue
udah terlanjur ngeliat semua’y. Dia mau ngejelasin apa lagi?”
“Kali aja yang lo liat itu nggak sepenuh’y bener.” Ujar
Lala.
“Apa’y yang nggak bener sih, La?”
“Lo bisa aja salah paham.” Sahut Lala. “Tapi sebaik’y lo
tenangin diri dulu. Jangan mikir yang macem2.”
Aku hanya bisa menarik napas panjang. Sabar… Sabar…
“Ra, gue turun ya. Kalo lo butuh gue, lo telepon gue
aja.” Kata Lala. Nggak terasa ternyata kami sudah sampai di rumah Lala.
Sampai di rumah, aku dan Adzy nggak bicara satu patah
kata pun.
“Kok tampang kalian pada tegang2 gitu sih?” Tanya Mama
begitu melihat aku dan Adzy datang.
“Lagi bĂȘte, Ma.” Sahutku.
“Bete kenapa?” Tanya Mama.
“PR lagi banyak.” Kataku seraya masuk ke kamarku.
Setelah itu Mama kembali asyik nonton acara gossip
favorit’y.
Di kamar aku hanya merebahkan diri di tempat tidurku yang
empuk.
Aku berguling-guling di tempat tdiruku sekitar dua
jam ketika Mama memanggilku.
“Ra! Ada yang nyariin kamu tuh.” Kata Mama.
“Siapa, Ma?” tanyaku sambil membuka pintu kamar.
“Elang.” Jawab Mama dari ruang depan.
Spontan aku menutup pintu kamarku lagi.
No! Aku nggak mau ketemu dia.
“Ra? Kok kamu nggak keluar2 sih?” Tanya Mama. “Ra?” Mama
memanggilku sekali lagi sambil mengetuk pintu kamarku. “Ra, Elang nyariin kamu
tuh!”
“Aku lagi nggak enak badan, Ma!” sahutku.
“Nggak enak badan? Nggak enak badan kenapa? Perasaan tadi
pulang sekolah kamu baik2 aja deh. Keluar, Ra. Ditungguin tuh.” Kata Mama masih
dari balik pintu kamarku.
“Aduh, Ma. Aku lagi males banget nih.”
“Nggak boleh gitu dong sayang. Kasian Elang udah
jauh2 datang ke sini, kamu’y males. Pokok’y kamu harus ketemu Elang. Titik.”
Aaargh…
Sabar2…
“Dara.” Sapa Elang begitu aku menemui’y di ruang tamu.
“Ada apa, Lang?” aku berusaha tenang.
“Gue mau minta maaf.” Sahut Elang.
“Minta maaf? Buat apa?” tanyaku.
“Soal kejadian tadi. Lo salah paham, Ra. Gue peluka sama
Safira…”
“Apa hubungan’y sama gue, Lang?” potongku. “Lo mau peluk2
sama Safira ya urusan lo.”
“Tapi gue mau jelasin ke elo, kalo tadi itu Safira yang
meluk gue.”
“Safira meluk lo? Ya udah, masalah’y apa?”
“Gue takut lo salah paham. Gue tadi bingung harus gimana
karena Safira tiba2 meluk gue. Dan gue yakin banget, Ra. Safira sama Cakra
pasti kerja sama mau ngejebak gue.”
“Elang! Plis, lo jangan bawa2 Cakra dong! Lo jangan cari
alasan.” Kataku jutek.
“Gue nggak cari2 alasan, Ra. Nggak mungkin lo sama Cakra
kebetulan ngeliat gue lagi pelukan sama Safira.”
Nggak mungkin. Cakra nggak mungkin kerja sama dengan
Safira. Menurutku pasti Safira yang langsung ambil kesempatan untuk membuatku
cemburu.
“Nggak. Nggak mungkin, Lang.” kataku. “Gini ya, soal
kejadian tadi, itu bukan urusan gue. Terserah lo deh mau mikir’y gimana.”
“Terus, kenapa Cakra jadi ngotot gitu ke gue? Bilang gue
mainin perasaan cewek-lah, terus bilang gue bikin lo sakit hati-lah. Kenapa dia
jadi kayak gitu?” Tanya Elang kemudian seraya menatapku tajam.
Sekarang aku nggak bisa berkata apa2 lagi.
“Kenapa, Ra? Gue dipeluk sama Safira jadi masalah buat
lo?”tanya’y lagi.
Aku nggak bisa menjawab pertanyaan Elang.
Tiba2 saja kedua tangan Elang memegang pundakku. Elang
berdiri tepat di hadapanku.
“Gue ngerti perasaan lo. Plis, percaya sama gue. Gue sama
Safira nggak ada hubungan apa2, kejadian tadi cuma salah paham.” Kata Elang
lembut. “Lo percaya kan sama gue?”
Perlahan aku mengangkat wajahku. Aku nggak bisa kalau
harus nggak percaya sama Elang.
Aku terlanjur cinta sama Elang.
Aku mengangguk pelan.
“Makasih, Ra. Lo udah percaya sama gue.” Kata’y.
“Sekarang lo pulang aja.” Kataku cepat2.
“Kok pulang sih? Lo ngusir gue?” tanya’y.
“Gue mau istirahat.” Jawabku pendek.
“Tapi lo maafin gue, kan?”
“Lo kan nggak ada salah sama gue.”
“Ya tapi lo udah ngerti kan maksud gue.”
“Udah. Sekarang lo pulang. Plis…”
Elang menatapku selama beberapa detik sebelum akhir’y dia
berbalik oulang.
Aku bisa bernapas lega sekarang.
Aku percaya sama Elang.
***
0 komentar:
Posting Komentar